Milipo’s football


ibu
Juni 19, 2008, 8:34 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

 

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ?

Sudah  pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama  pun waktu yang harus dijalani, Tak  kenal  menyerah  demi  mendapatkan  satu kepastian dari seorang bidan:

p-o-s-i-t-i- f.

Meski  berat,  tak  ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali  benih dalam kandungannya.

Menangis,  tertawa, sedih dan bahagia tak  berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si  kecil di perutnya.

Seringkali  ia  bertanya  :  menangiskah  ia? Tertawakah  ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana?

Bahkan  ketika  waktunya  tiba,  tak  ada  yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika  itu  mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.

Rasa  sakit pun sirna, ketika mendengar  tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang  terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

 

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak.

Tak  satu  pun  tema  yang paling menarik untuk didiskusikan  bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si  kecil  baru  saja  berucap  “Ma?”  segera  ia  mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar  telepon.

Saat  baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara  haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari   pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah

awal  kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak  terhenti rezekinya.

Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di  tengah jalan.

 

“Demi  anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di  pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat  ia  berada  di  pesta  seorang   kerabat atau keluarga dan membungkus

beberapa potong makanan dalam tissue.

Ia  selalu  mengingat  anaknya  dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.

Tak  jarang,  ia  urung  membeli  baju  untuk  dirinya sendiri dan berganti mengambil  baju untuk anak.

Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski  pun,  terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.

 

Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya.

Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak.

Nomor  urut  selanjutnya  baru  kebutuhan  yang  lain.  Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi  prioritasnya.

Bahkan,  tak  ada  beras  di  rumah pun tak mengapa, asalkan  susu si kecil tetap terbeli.

Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa  pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

 

Ia  menjadi  guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak  pernah dibayar,  menjadi  pelayan yang sering terlupa dihargai, dan  menjadi babby sitter yang paling setia.

Sesekali  ia  menjelma  menjadi  puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.

Keesokannya  ia  rela  menjadi  kuda  yang  meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.

Atau  ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi  kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit  lucu  yang  ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.

Kantuk  dan  lelah  tak  lagi  dihiraukan,  walau  harus  menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura  si nenek sihir terjatuh dan  mati  sekadar  untuk  bisa  memejamkan mata  barang sedetik. Namun, si kecil  belum  juga terpejam dan memintanya  menceritakan dongeng ke sekian.

Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

 

Tak  ada  yang  dilakukannya  di  setiap  pagi  sebelum  menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus.

Tak satu pun yang paling  ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak

tercinta.  Serta   merta  kalimat,  “sudah makan belum?” tak lupa terlontar

saat  baru  saja  memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia  timang  dalam  dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli  makan siangnya sendiri di kampus.

 

Hari  ketika  si  anak  yang  telah  dewasa  itu  mampu mengambil keputusan

terpenting   dalam   hidupnya,   untuk   menentukan   jalan  hidup  bersama

pasangannya,  siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu  menitikkan air  mata?  Lihatlah  sudut  matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.

Ia  menangis  melihat  anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat  itu,  ia  pun  sadar,  buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan  cintanya  itu  tak  lagi  hanya  miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam  harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”

 

Saat  senja  tiba.  Ketika  keriput  di  tangan  dan  wajah mulai berbicara tentang  usianya.  Ia  pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir.

Hanya  satu  pinta  yang sering terucap dari bibirnya, “Bila ibu meninggal, ibu  ingin  anak-anak  ibu  yang  memandikan.  Ibu  ingin dimandikan sambil dipangku kalian”. 

Duh  ibu,  semoga  saya  bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya  tak  ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya.

Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu “cinta”.

Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu “pecinta”.

Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: “anakku tercinta”.


Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan



Tinggalkan sebuah tanggapan
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>